Jumat, 09 Januari 2015

Tempat Keramat Sebagai Pengontrol Kerusakan Lingkungan



oleh: Melkias Sanyar

Tempat keramat bisa membatu proses konservasi lingkungan dan budaya, bagaiman bisa?. Dalam tulisan ini, saya ingin bercerita tentang daerah keramat yang berfungsi sebagai control kerusakan lingkungan yaitu di kampung Yaur dan Kwatisore.


Perjalanan saya  kali ini merupakan perjalanan  yang   kedua di Teluk Cenderawasi Papua tepatnya di Kabupaten Nabire setelah 22 tahun kunjungan pertama saya. Perjalanan saya ke Nabire kali ini bersama dengan kedua teman Bentara Papua, Maria dan Bram yang melaksanakan  program belajar bersama di kampung. Lokasi yang kami pilih untuk belajar bersama masyarakat adalah kampung Yaur dan Kwatisore distrik Yaur kabupaten Nabire. Kedua tempat ini masuk dalam daerah konservasi  Taman Nasional Teluk Cenderawasi dan juga tempat yang pertama kali saya kunjungi.

Waktu tempuh dari kota Nabire ke kampung Yaur sekitar sekitar 3 jam. Jika  lautan sedang teduh bisa lebih cepat. Sedangkan ke kampung Kwatisore sendiri bisa ditempuh dalam waktu 2 Jam dengan mesin motor laut 40PK 2 buah.

Minggu, 14 Desember 2014

Ikan Paus Pembawa Berkat



Oleh: Melkias Sanyar
Banyak orang berhanggapan bahwa Jika ada ikan paus yang melintasi atau terdampar di pinggir pantai maka tertanda bahwa  ada sesuatu yang akan terjadi  yaitu terkait hal buruk seperti gempa bumi/tsunami.
Cerita saya kali ini  yaitu bertemu ikan paus yang terdampar di pantai pulau Owi.
Pada bulan Desember 2013 baru-baru ini, saya berangkat dari Manokwari ke Pulau Owi (Biak).  Setelah saya tiba di pulau Owi dan lewat beberapa hari kemudian, saya mendengar dari beberapa anak kecil (adik-adik) yang selalu bermain ke rumah saya. Mereka menceritakan seekor ikan  paus yang mati dan terdampar di ujung pulau Owi. Lalu dengan kaget saya kembali Bertanya kepada mereka ” apakah ikan pausnya masih ada?” lalu mereka menjawab “ ia dia masih ada namun pasti sudah hancur karena dia mati dan terdampat di pulau Owi sejak bulan November hingga saat ini”. Keesokan harinya saya bersama tiga saudara saya, berjalan ke ujung pulau tempat dimana ikan ikan paus tersebut terdampar. Sesampai disana, saya melihat ternyata ikan pausnya sudah membusuk dan perlahan hancur mulai dari kepala hingga ekornya dan tulang-tulang belakang mulai berceceran. Kami tidak sanggup untuk memdekati tempat dimana ikan paus tersebut tinggal karena bauhnya yang sangat tanjam, saudara-saudara yang mengantarku kesana hampir muntah karena bauh busuk dari ikan paus tersebut. Karena  rasa penasaran saya  nekat untuk mendekati ikan paus tersebut dengan mengunakan kain menutupi hindung.

Rabu, 10 Desember 2014

Jalan Plus+Plus Part 1




Sira, 23 Oktober-15 November 2014
Oleh: Ian
Blog: Pecintakonservasi.wordpress.com

Kalau Anda Ingin jalan-jalan tanpa mengeluarkan uang, pilihlah pekerjaan yang lokasinya di tempat-tempat yang belum pernah anda kunjungi dan ambilah pekerjaan itu. Salah satu syaratnya kalian harus tetap bertanggung jawab pada pekerjaan itu. Perjalanan saya kali ini yaitu Sorong Selatan. “Kayaknya memang keren dengar judulnya saja sudah dahsyat”. Jalan-jalan plus kerja maksudnya, heheheheh. Tapi, kedahsyatan itu belum sampai disitu saja. Masih banyak lagi yang perlu dituliskan. Tunggu saja “nanti bagus” (istilah anak-anak Pondok, hahaahahhaa) dan pekerjaan itu saya terima dari salah satu perkumpulan namanya BENTARA PAPUA. 
Perjalanan dimulai dari penerbangan Manokwari – Sorong, setelah tiba kami langsung melanjutkan perjalanan ke Sorong Selatan menggunakan transportasi darat. Sebenarnya akses ke Sorong Selatan dapat menggunakan pesawat Susi Air dengan harga tiket Rp. 240.000,-/org + airpot tax Rp 8.000 yah totalnya Rp 250.000 (Rp. 2000-nya beli enceran rokok lumayan, hehehehe). Harga itu sama sih dibandingkan dengan ongkos naik mobil, cuma bedanya kita tidak terbuang banyak waktu (untuk kelas bisnis dan pemerintah yang kejar waktu) tetapi untuk para orang yang menyukai pemandangan seperti saya sarannya

Menjadi Orang Tua Asuh Penyu



Perjalanan Manokwari  menuju kepulauan Kabupaten Tambrau (Jamursba Medi) tanggal 7- juni. 2014
Saya harus bangun pagi-pagi jam 5:00 alias masih mengantuk,muka masih pemalas saya harus sarapan setelah sarapan saya harus bergegas menuju pelabuhan perikanan ikan (PPI) Sanggeng, kemudian saya menunggu speetboat Abun Leatherback pada jam 6 pagi, speed sandar di pelabuhan saya masuk kedalam spit bersama sembilan anggota yang lainnya dan kemudian kita mulai bertolak dari pelabuhan perikanan menuju. Untuk mencapai ke daerah tersebut membutuhkan waktu kurang lebih tujuh sampai sembilan jam karena saking lamanya perjalanan saya duduk sampai kepala “patok-patok” macam ayam (ngantuk), tulang belakang sakit juga  teman tapi asyik hehehehe.. hari ini kami bertolak ke sebuah daerah bernama Jamursba medi. Daerah ayng berjuluk surga penyu.

Rabu, 03 Desember 2014

Anak Kampung Yang Melarat Di Ibu Kota



Seperti pada postingan sebelumnya, tulisan ini juga merupakan hasil latihan dari pelatihan komunikasi #BentaraPapua pada beberapa minggu lalu :)

Oleh: Ian


Blog: Pecintakonservasi.wordpress.com

“Ini adalah trip perjalanan pertama saya. Menyenangkan dan menegangkan”. Itulah awal kata yang tepat untuk menggambarkan trip perjalanan kali itu. Mengapa menyenangkan? Jawabannya karena saat itu merupakan trip perjalanan pertama saya naik pesawat dan menegangkan, karena saya harus berangkat sendiri tanpa harus ada orang yang mamandu perjalanan saya ke ibukota negara.
Bandara Soekarna Hatta yang beroperasi sejak tahun 1985 ini dengan memiliki luas 18 km2 itu kata mbah Google sihh gitu, hehehehe maklum anak kampung jadi semuanya masih tergantung si mbah itu. Kembali ke leptop bandara  itu tadi merupakan bandara yang akan diingat oleh saya selama-lamanya (nyebut selama-lamanya pakai versi biak ya jadinya seeeeellaaaaaamaaaa laaaamaaaanyaaaaaaa..hehehehehehe).
 Awal tujuan saya sih waktu datang ke Jakarta adalah untuk mempresentasikan program Hibah Bina Desa 2014 yang lolos kualifikasi dari beberapa Universitas yang mengikuti program nasional tersebut. Kaget juga sih waktu dengar pengumuman itu ternyata bisa juga yah anak kampung bisa bersaing dengan orang kota. Rasis juga tapi biarin saja namanya juga berkreasi. Program tersebut tadi diadakan oleh LIPI sebagai salah satu lembaga bertaraf nasional yang bergerak di bidang pendidikan. Seru sih , ahhh Cuma ini akan menjadi pekerjaan berat nantinya karena harus mempertanggung jawabkan semua hal yang dibebankan kepada saya dan team dari Universitas Negeri Papua.
Seminggu berlalu akhirnya tanpa terasa proses presentasi berjalan dengan mulus. Yesssss!!!! Time to travelling , tetapi waktu saya tidak banyak. Saya harus segera melapor tiket yang sudah di booking sebelumnya pada jam 8 malam waktu setempat dan ini Ttiba-tiba kepala saya menjadi pusing, kira-kira dikota yang disebut kota megapolitan  ini saya harus kemana ya?
Ehmmmmm dapat ide sepertinya saya harus menginjakkan kaki saya di tempat yang namanya sering disebut banyak orang yaitu Monas alias Monumen Nasional. Seperti apa sih Monas yang biasa disebut orang tadi ?……Akhirnya!!!!! Saya memutuskan mengajak teman semasa SMA di Papua dulu yang juga kuliah di Jakarta namanya Fikar dan Alter  sebagai guide local supaya saya tidak hilang, serasa kayak bule ya? Hahaha nggak apa-apa sekali ini saja, kok malah seperti lagunya Glend F. ya? (kok jadi kayak gini ya cerita tulisannya, ga nyambung, hehehe kata tukul kembali ke leptop.)
“Ohhhh jadi ternyata ini ya yang namanya Monas”. Lumayan sich, kata teman saya kalau malam lebih keren. Kayaknya perlu dibuktikan. Sambil menunggu malam kami memutuskan untuk nongkrong melihat aktifitas orang-orang yang berkunjung di halaman monas yang luas itu, termasuk melihat para ladies yang sedang lari sore,,,,hehehehehe). Wetttsssss…..Tanpa terasa sudah mulai malam lampu sudah dinyalakan….kerennn sich cukup untuk memuaskan treveling saya kali ini. Teman saya sebenarnya sudah mengingatkan saya supaya kita pulang lebih cepat karena mengingat perjalanan ke bandara lumayan jauh, yah tetapi karena asik menikmati pemandangan + Lady’s yah kata saya “ah santai saja perjalanan kesana gampang itu” (Percaya diri).
Wehhhhh sudah jam setengah 8, keasikan sampai lupa waktu itu. Sudah akhirnya kami putuskan bergegas untuk angkat kaki dari lokasi. Kami harus menunggu busway, dan ternyata inilah yang menarik kita lupa kalau jam 8 itu adalah waktu penumpang busway full…mampus sudah 10 busway yang singgah selalu full mana sudah jam setengah 9. Mulai panik dan mulai muncul pernyataan menyesal “adohhhh kenapa tidak dari sore saja pulangnya”. Kondisi tersebut mulai membuat kami terpaksa harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk berdesak-desakan, tetapi sudah jam 9 lewat nih tambah panic lagi!!!). tanpa berfikir panjang mengenai harga dan lain-lain kamipun langsung memutuskan memakai taksi blue bird (sebutan untuk taksi bertaraf sedikit elite dan aman ..andalannn). Ternyata!!!!! masalah belum selesai sampai disitu lagi-lagi MACET!!!!!arggghhhhhhh sepertinya mau maki-maki saja tapi tidak tau mau makinya sama siapa, sudah jam 9 tapi belum sampai ke bandara mana harus ke hotel ambil barang-barang saya (Panik tingkat dewa!!!!!!!). end than Sampai juga di bandara tapi sudah jam 10.15, mampussss masih bisa atau tidak ya?. “Selamat malam, ini mba mau check in? (sambil menyerahkan tiket)” kata mba “ maa pak pesawatnya baru saja take off.” Dengan perasaan menyesal sayapun menjawab “oke mba makasih”
“Ini adalah bencana” kata saya. Sambil berjalan keluar bandara saya pun menelpon teman saya dan untungnya mereka masih berada di areal bandara. kata saya “syukur untung masih ada kalian, asikkkkkk akhirnya tidak jadi gembel….hahahahaha (ketinggalan pesawat baru senang lagi)”.
“Kisah ini masih belum usai, masih ada lagi”. 2 jam telah berlalu dan kita masih belum bergerak angkat kaki dari bandara untuk memikirkan nasib kita ke depan (macam pemerintah saja…hahaha). Akhirnya kita mendapatkan ide untuk menelpon salah satu alumni perikanan “namanya kak Angki” dan akhirnya solusi pun muncul. Kami bergegas pergi ke hotel tempat kak Anggi nginap dengan sisa uang ditangan (sakiiitttt eh). Setibanya kamipun menceritakan pengalaman yang baru saja kami alami dan kak Anggipun cuma tersenyum simpul dan secara spontan kami pun ditanya “kalian sudah makan?”. Pertanyaan itu seakaan membuat kita “sedikit” melupakan semua yang terjadi (ihhhhh sedikit… hina sekali!!!!). “iyaa yah karena kejar waktu sampai laparpun dilupakan (bisa yahhhh?#geleng-geleng kepala)”, kamipun tersenyum dan menjawab pertanyaan kakak tadi. Senyum kami tidak tertahankan lagi ketika ada pertanyaan berikutnya yang ditanyakan kepada kami, “kalian masih punya uang atau tidak?” wooowww terkejut sekali kakak Anggi memang penyelamat kita malam ini (Kak Anggi Is the best). 
http://ksmtour.com/informasi/tips-wisata/tips-anti-ketinggalan-pesawat.html

Keesokan harinya berita menyenangkan pun datang lagi tetapi bukan dari kakak Anggi lagi namun datangnya dari dosen pembimbing saya, “ibu Tresia” namanya. Walaupun sempat diawali marah-marah sih, tp semua itu memang karena salah saya jadi “marah saja ibu, marah saja dia nanti bagus…hahahahaha”. Berita baiknya itu adalah ibu telah langsung membelikan tiket balik walaupun ibu harus merogoh kantong lebih dalam tetapi ibu juga is the best (hehehehehe.. ibu baik sakali ya!!). Pesannya ibu buat saya “mulai besok datang ke bandara jam 5 sore ingat itu”, kata saya “iya ibu siap mulai malam ini saya nginap di Bandara ibu hehehehehehe#lebay”.

Kamis, 27 November 2014

Menginjakkan kaki di Pulau Peynemo



Pengalaman paling terkeren seumur hidup

Ekspedisi saya dan teman-teman UKM KOMPES UNIPA kali ini dalam Rangka Hari Pendidikan Nasional dan Hari Bumi KOMPES berkerjasama dengan Mbrai Project   melakasanakan pemasangan Bioreff dan Pendidikan Lingkungan Pesisir di Raja Ampat. Raja Ampat terdiri dari pulau-pulau yang terletak 50 mil dari Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Kepulauan Raja Ampat terletak di ujung “segitiga karang” (coral triangel center) yaitu sebuah kawasan yang mencakup bagian utara  Australia, Filipina, Indonesia, dan Papua New Guinea yang memiliki keanekaragaman biodeversiti yang tinggi. Saya sangat senang karena ini ketiga kalinya saya pergi ke Raja Ampat namun lokasi tujuan kali ini berbeda dari tempat  yang sebelumnya, kali ini yang akan saya dan teman-teman KOMPES kunjungi Kampung Wisata Sawinggrai.
Kami  mengikuti kapal Ngapulu tujuan sorong dengan tiket kelas ekonomi satu orang seharga Rp 150.000,-.

Setibanya di Kota Sorong kami langsung ke Pelabuhan Rakyat untuk melanjutkan perjalanan ke Waisai Ibu kotanya Raja Ampat. Dengan menggunakan kapal Express Bahari dengan harga tiket Rp 120.000 /orang. Tak lupa kedua teman kami yang terlebih dahulu tiba di Kota Sorong  sudah mempersiapkan kebutuhan pokok seperti Bahan Makanan  dan BBM (bahan bakar minyak) untuk nantinya dipakai di lokasi tujuan. Hal yang tak terlupakan kami menahan keberangkatan kapal selama setengah jam untuk menunggu kedua teman kami yang dalam perjalanan menujuh pelabuhan. Menunggu dengan harap-harap cemasJ pada akhirnya mereka pun tiba dan kami semua dapat berangkat bersama-sama. Setelah setengah jam kami tiba di pelabuhan Waisai.

Rabu, 26 November 2014

AIR TERJUN WAR INKABOM MENUJU WISATA BAHARI


Hallo…. Teman-teman, kalian tahu wisata Air Terjun War Inkabom ini kah tidak? Kalau belum tahu, ayo ikuti cerita menarik yang akan saya ceritakan dibahwa ini. Siapa tahu teman-teman suatu hari bisa berkunjung ke wisata air terjun yang saya cerita ini. Ingat teman-teman, saya juga baru pertama sekali lhoo… menikmati Wisata Air Terjun “War Inkabom” ini dan Air terjun ini sangat tinggi dan memberikan kesan yang luar biasa buat saya. 

Perjalanan menuju air terjun War Inkabom
Perjalanan menuju Wisata Air Terjun sangat menyenangkan dan asyik sekali (seperti gambar 1), banyak sekali pesona laut dan hol yang kalian akan menikmati akan dilalui menuju ke Air Terjun “War Inkabom” ini. Jangan lupa bahwa kamera supaya teman-teman dokumentasi flora dan fauna yang ada di Kampung Arefi menuju air terjun. Dokumentasi flora dan fauna serta keindahan alam itu memberikan kenangan terindah  dan bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain terinspirasi. Ingat transportasi laut jangan pikir susa-susa, tinggal bilan masyarakat kampung menggunakan Perahu Katinting atau Perahu Motor 15 PK, 20 PK, 50 PK sesuai ketersediaan perahu oleh masyarakat kampung dan tinggal menuju ke Air Terjun “War Inkabom”. Tapi ingat upah untuk pemilik perahu harus diperhatikan juga sebagai rasa menghargai misalnya uang, rokok, pinang dll. Dalam perjalan ini juga membutuhkan BBM (Bahan Bakar Minyak) sekitar 20 liter PP (Pulang-Pergi) mulai dari Kampung Arefi atau Yensawai ke air terjun. Jarak yang kami tempuh mulai dari Kampung Arefi menuju ke Air terjun 8 km dan membutuhkan waktu ± 2 jam menggunakan Perahu Katinting.

Senin, 20 Oktober 2014

Kemah Bentara : Kepemimpinan Sosial & Lingkungan



Pembangunan yang berkelanjutan akan berjalan harmonis jika perencanaannya melibatkan semua pihak, dan pembangunan tersebut akan menjadi lebih bermakna oleh karena keterlibatan masyarakat yang kuat dalam suatu wilayah pembangunan tersebut. Permasalahan demi permasalahan sering terjadi seiring dengan berjalannya pembangunan, namun semua itu dapat berjalan harmonis jika konsep pelestarian lingkungan/konservasi sejalan dengan pembangunan, yang mana lebih dikenal sebagai pembangunan berkelanjutan (sustainable development), maka dengan ini dibutuhkan adanya keterlibatan semua pihak terutama generasi muda dalam mengawal dan mengikuti proses pembangunan yang akan dilakukan.
Berkaca pada pengalaman beberapa pegiat lingkungan, disadari bahwa ketersediaan kaum muda yang peduli pada kerja-kerja pelestarian lingkungan dan pendampingan masyarakat di Papua sangat terbatas. Sehubungan dengan itu, Perkumpulan Bentara Papua yang berdiri pada 13 April 2012 hadir dengan mengusung tujuan Terwujudnya pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya alam secara adil dan berkelanjutan bagi keberdayaan dan kesejahteraan masyarakat, serta kualitas hidup yang setinggi-tingginya, b) Mewujudkan kondisi lingkungan yang lestari melalui penggalangan dan pengelolaan sumberdaya bagi upaya-upaya pemberdayaan masyarakat, advokasi kebijakan publik, pembelajaran bersama serta mobilisasi dukungan dan partisipasi  para pihak.

Minggu, 05 Januari 2014

Drama Lapangan Miring


Kegemaran bermain sepak bola sedang meraja di kampung Sira. Usai dibuatnya lapangan sepak bola yang digagas kanak - kanak berusia SD di kampung ini, terjadi perubahan yang cukup mencolok di dekat rumah tempat tinggal tim Bentara Papua. Beberapa hari pun berlalu dengan semangat para kanak - kanak untuk terus bermain bola di lapangan miring. Suasana kampung yang sunyi ini berubah menjadi ramai namun hanya di atas bukit di bulan Oktober 2013. Keramaian situasi bermain bola memang meriah, namun di sisi lain telah mengganggu beberapa orang pengguna ruang kecil tempat renungan alias MCK yang sering dipergunakan tim BnP. Hal ini karena salah satu tembok dari lapangan ini adalah dinding bagian belakang  MCK.

Seperti permainan bola yang tidak dapat diprediksi berapa banyak ketepatan gol yang dilesatkan, begitu pula ‘drama’ bola di kampung ini. Kegiatan bermain bola terus berjalan hingga pada suatu sore bergabungnya salah seorang anak muda yang juga berasal dari kampung Sira namun umurnya sudah lebih tua dari bocah-bocah tersebut (anak SMP) yang mengubah warna ‘permainan’ bola. Remaja ini suka bermain bola dan ngefans sama Boas/persipura dan ingin bergabung dan bermain dengan anak - anak SD di lapangan miring.

Jumat, 20 Desember 2013

Lain Kolam, Lain Cara Mandinya



“Bila ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi. Bila ada umur panjang, bolehlah kita berjumpa lagi.” (Anonim)

“Lain lubuk, lain ikannya.” (Anonim)

Pernah mendengar perumpamaan - perumpamaan di atas? Well, saya dan teman - teman di Bentara Papua selama proses dokumentasi di kampung Sira benar - benar mengalami perumpaan itu dalam arti harafiah alias urusan mandi di kolam ataupun sumur punya karakter mandi yang berbeda apalagi kalau sudah nyangkut di urusan privasi dan kepemilikan. Itu benar - benar perkara gabungan seperti isi roti sandwich yang harus dipikirkan dengan baik. 
Melki bersiap mandi

Selasa, 10 Desember 2013

Mimpi Menjadi Boaz (Persipura)

Boaz Sallosa atau yang akrab dipanggil Boci adalah salah satu ikon sepakbola Tanah Papua saat ini, begitu pula klub yang dibelanya: Persipura. Berawal dari kemenangan Persipura pada ISL 2013 dan telah memiliki gelar bintang  4(****), selanjutnya juga kemenangan persipura (2:1) atas Santoz yang adalah salah satu klub sepak bola dari Brasil; sebagaimana diketahui bahwa saat ini Brazil tengah mempersiapkan diri untuk tuan rumah Piala Dunia 2014.  Kemenangan - kemenangan ini memberikan sebuah kebanggaan bagi banyak orang dan lebihnya menyebabkan banyak fans kepada pemain terbaik ISL 2013 ini dan juga klubnya.

Kekaguman pada Boaz dan Persipura rupanya melekat erat untuk anak – anak kampung Sira di kabupaten Sorong Selatan; lokasi pendampingan Bentara Papua. Seorang bocah berumur 10 tahun yang bernama Marlon Kladit atau akrab dipanggil Manu beserta teman-temannya saking terlalu fans sama persipura, usai menonton dan menyaksikan kemenangan persipura atas FC Santoz dari Brazil, keesokan harinya mereka mengambil bola dan bermain di pinggir rumah tempat tim kami tinggal. Ya apa boleh buat karena tidak ada lapang sehingga mereka harus bermain pada halaman rumah yang ditumbuhi pepohonan dan terlihat sangat sempit dengan pinggiran jurang yang menganga.

Senin, 25 November 2013

Panen Kangkung di Kampung Sira


Senja petang ini begitu memikau. Memang, senja dalam beberapa waktu terakhir di Kampung Sira selalu memikau. Warna keemasaanya memancar dari ufuk barat mengiringi langkah saya dan Melki menuju posko tempat tinggal kami di Kampung ini. Masing-masing kami  menenteng sebuah kantong plastic berukuran besar berisi kangkung. Langit yang cerah karena baru saja usai hujan menambah suasana soreh lebih berwarna dan hati kami pun sangat berwarna melangkah menuju rumah meski jalan menanjak, kami begitu bersemangat berkat tentengan kantong plastik kami yang penuh sesak .

Rabu, 06 November 2013

Dua Enampuluh Kain untuk Harga Mas kawin Seorang Gadis



Sore ini (28/09/13; pukul 3 sore), saya bersama Melki; seorang rekan kerja, berkesempatan untuk menyaksikan betapa berharganya seorang perempuan. Banyak hal yang dapat dilakukan orang untuk menunjukkan “harga” seorang perempuan, salah satunya yang dikenal seantero daratan Papua adalah Mas Kawin. Tidak hanya di Papua, di berbagai suku dan bangsa lainnya perkara mas kawin sudah mendarah daging sejak nenek moyang. Itulah yang kami saksikan soreh hari ini. Pembayaran mas kawin dari keluarga seorang laki-laki kepada keluarga seorang perempuan. Pembayaran mas kawin berdasarkan kebiasaan suku Kna di linggkungan adat Seremuk, kabupaten Sorong Selatan.
Adalah Kampung Kwowok di daerah distrik Saifi, kampung dimana berlangsungnya pembayaran mas kawin ini berlangsung. Kerumunan warga di halaman sebuah rumah panggung yang terbuat dari papan kayu tampak di di ujung kampung. Mereka sedang menghimpun “harta” sebagai maskawin. Harta tersebut berupa kain. Beberapa  jenis kain dilipat rapi kemudian disusun di depan halaman rumah dan dihitung jumlah dan jenisnya. Jenis kain didominasi oleh kain tenun yang berasal dari Batak maupun Timor.

Kamis, 31 Oktober 2013

Menanti "Surat Cinta"

Menanti 'Surat Cinta di (Kantor) 'Kelapa' Dinas
Ini hanya sebuah catatan keluh kesah tentang pelayanan sebuah kantor pemerintah. Ini cerita tentang pengalaman buruk saya berkoordinasi dengan mereka yang memiliki nomor induk pegawai, NIP.
Dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2013, saya sering berkunjung ke Teminabuan; ibukota Sorong Selatan. Ada dua agenda yang harus saya kerjakan di sana yakni berkoordinasi dengan masyarakat dampingan dan dinas pemerintahan yang terkait dengan program kerja kami bersama masyarakat tentunya. Satu hal yang sangat krusial yang kami harus urus di satu kantor dinas pemerintahan setempat adalah ‘surat sakti’ yang dikenal dengan surat rekomendasi. Itupun bukan surat terakhir yang harus kami perjuangkan. Ini hanyalah sebuah surat yang bisa dikatakan permulaan.
Begitu intensnya kunjungan saya ke kantor tesebut sampai-sampai saya bisa menghafal  suara para staf yang jumlahnya belasan orang itu (meski faktanya di absen dinas, mereka sebenarnya berjumlah lebih dari 30 orang). Mereka sangat berisik terutama saat tidak ada ‘kelapa’ dinas.. OOPS, maksud saya ‘kepala dinas’. Beda halnya dengan saat kepala dinas di tempat, SUNYIIIIIIIIIIIIIIII senyap kayak di kuburan.
 Salah satu pemandangan menarik ketika pada suatu masa, saya datang sekitar pukul 10.00 pagi. Saya duduk di depan teras karena orang yang saya cari belum datang dan hanya ada beberapa orang saja. Satu persatu staf baru mulai berdatangan beberapa saat kemudian ternyata. Mereka rupanya doyan terlambat . Parahnya lagi yang terlambat adalah adalah para Kabid dan termasuk juga kepala dinasnya. Maklumlah mereka sibuk bekerja jadi bangun kesiangan. Capek!

Kamis, 24 Oktober 2013

Universitas Kehidupan

Blog ditulis oleh Rini Irmaya Sari

Mengerjakan pekerjaan yang disukai belum tentu tanpa halangan dan hambatan. Dalam perjalanan hidup saya yang sudah 30 tahun menetap di planet ini, saya belajarbanyak bahwa melakukan pekerjaan yang saya suka itu bikin hidup terasa lebih hidup dan juga ada banyak pelajaran penting yang membuat saya bertumbuh secara manusia. Saya belajar banyak hal dan juga semakin bersyukur atas hidup saya.

Pekerjaan dokumentasi yang akan genap sebulan esok hari di sebuah kampung di daerah Sorong Selatan ini membuat energi saya tercurah padanya. Belajar tinggal dikampung, bersinergi dengan kehidupan yang minim fasilitas dan segala macamakese yang membuat hidup terasa nyaman membuat saya belajar bahwa selama inisaya hidup dalam kenyamanan fasilitas yang saya beli, bayar dan disediakan olehorang tua saya. Saya berkaca dalam hidup saya dan berkata bahwa “inilahuniversitas kehidupan yang sesungguhnya”. Ya, saya belajar banyak bagaimanamanusia bertahan hidup, mengalami pergesekan budaya dari luar, bagaimana dinamika sosial terbentuk dan hal lainnya. Saya belajar banyak hal yang tidaksaya dapatkan dari bangku perkuliahan saya.


Setiap perjalanan dan pekerjaan serta perjumpaan di kampung dengan berbagai macamkarakter termasuk karakter anggota tim membuat saya tersadar bahwa kisi - kisihidup manusia tidak bisa ditebak. Saya belajar bahwa si X suka sesuatu sepertiini, si Y suka sesuatu seperti itu dan saya suka sesuatu yang lain. Saya belajar banyak bahwa kompromi, terkadang curhat diam - diam, berdoa pada Tuhanataupun ‘tahan - tahan hati’ serta mengutarakan maksud secara gamblang adalah upaya - upaya yang bisa saya lakukan untuk bertahan dalam dinamika ini. Kadangsaya harus egois, kadang saya harus mengalah dan kadang juga saya berada padadaerah abu - abu. Well, saya manusia yang pada ke sekian kalinya tersadar bahwasaya lemah dan punya keterbatasan.

Saya belajardalam pekerjaan ini untuk meletakkan impian saya dalam status realita yang terpasung dalam norma - norma adat dan tatanan sosial yang membungkus kehidupanindividu - individu yang menjalin sebuah struktur sosial yang lebih kompleks.Sebagai seorang sak’li atau pendatang di daerah ini, saya sadar betul bahwasaya penjelajah, pengunjung dan tamu yang harus belajar bahwa terlepas darisegala macam tetek bengek ilmu pengetahuan yang saya pelajari selama ini hingga merantai jauh ke luar negeri, saya hanyalah seorang baru yang belum membuktikanapa - apa dalam bertahan hidup di tempat yang keras ini. Saya bukan apa - apa,bukan siapa - siapa, yang baru saja datang berkunjung sebentar selama sebulan dibandingkan mereka; orang - orang kampung hebat ini, yang hidup selamabergenerasi mencoba bersahabat dengan alam dan dunia roh yang ganas di daerahini. Mereka adalah survivor; orang -orang yang bertahan hidup. Mereka adalah orang - orang yang kuat yang tahubagaimana bertahan hidup.

Saya belajarbanyak dalam universitas kehidupan ini. Saya belajar banyak yang kelak intisaripelajaran ini hendak saya bagi bagi keponakan - keponakan saya di rumah untukmenghargai apa yang mereka miliki saat ini. Saya ingin pulang dan menghargailistrik di rumah yang bisa saya akses dengan harga yang murah. Bandingkandengan saya yang ingin mendapatkan akses listrik selama 4 jam untuk mengetikdan mengisi ulang daya peralatan elektronik dan harus menebus bensin sebanyak 3L (Rp. 45.000).  Saya ingin pulang danmenghargai alat transportasi yang saya punya yang sering saya pakai percuma danjarang saya cuci kalau tidak diributin bapak. Padahal di sini, saya harus naikojek selama 45 menit ke kota dan merogoh Rp. 70-80 ribu/trip. Saya ingin lebihlagi menghargai akses air bersih yang sangat gampang di rumah saya yang cukupbuka keran dan penampung air (profile tank) akan mengalirkan air deras yangcukup untuk bermain hujan - hujanan di halaman rumah. Sedangkan di sini, sayaharus mengangkat air selama 15 menit dari sumber mata air dan dalam sehari bisamengangkat rata - rata 30 - 45 L dengan jeriken plastik 5 L beberapa buah. Sayaingin pulang dan lebih menghargai fasilitas kamar mandi dengan toilet dudukyang bersih, kamar mandi berlantai keramik dengan peralatan mandi super duperlengkap dengan sistem privasi yang terjamin. Karena saya tahu bagaimana harusmencari air untuk urusan kamar mandi, mandi dengan memakai sarung dengan aksesumum dan tidak ada privasi. Saya ingin lebih menghargai apa yang saya miliki.Itu saja!!!

Saya belajar disebuah universitas kehidupan. Saya belajar banyak bahwa selama ini Tuhan menjaga saya dengan baik. Saya belajar bahwa Tuhan-ku begitu baik pada saya dengan kondisi tubuh saya yang tidak terserang malaria sejauh ini, yang tidak mengalami sakit sendi sementara ini dan mengijinkan saya lahir dan hidup ditempat bernama Manokwari dengan akses medis. Saya tidak bisa membayangkan biladengan kondisi sakit seperti 13 tahun lalu yang saya alami dan harus tinggal dikampung ini, karena mungkin saya tidak akan bertahan dan menjadi beban yang lebih berat bagi komunitas. Saya belajar banyak, teman.

Hari ini, sayabelajar bahwa orang - orang di kampung adalah para survivor yang mencintaihutan lebih dari pada saya, yang menghargai dan menganggap hutan sebagai mamamereka. Mereka tahu dan bersahabat dengan alam dan semoga mereka tetapmengingat budi baik hutan. Itulah sebabnya saya di sini, saya ingin merasakanbagaimana alam menyediakan kami makanan, bagaimana alam memberikan kamitantangan hidup dan sensasi adrenalin yang naik - turun, dan bagaimana saya danmasyarakat dapat belajar bersama bahwa ini rumah kami; hutan.

Hari ini saya hanya bisa bilang “Thanx God”, saya jatuh cinta pada pekerjaan saya. Sayabelajar banyak dari universitas kehidupan ini.

Kiranya segala hormat, pujian dan kemuliaan bagi Sang Pencipta. Amen.

(Teminabuan,141013; 10: 33 a.m.)
 @rini irmayasari